KajianLiputanRanting

PRM Mendak Gelar Pengajian Rutin Secabang Muhammadiyah Delanggu, Menguatkan Pemahaman Tauhid Rahmatiyah

Delanggu – Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mendak menjadi tuan rumah Pengajian Pimpinan Ranting Secabang Muhammadiyah Delanggu yang diselenggarakan pada Ahad, 28 Juni 2026, di Masjid Istiqomah Miliran, Mendak, Delanggu. Kegiatan ini dihadiri oleh warga Muhammadiyah dari berbagai ranting di wilayah Cabang Delanggu sebagai ajang mempererat ukhuwah sekaligus meningkatkan pemahaman keislaman.

Dalam sambutannya, Ketua PRM Mendak, Sarjono, mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menjaga semangat berjuang di persyarikatan. Ia menegaskan bahwa PRM Mendak berkomitmen untuk tetap istiqamah dalam dakwah serta mempertahankan tradisi pengajian rutin yang dikenal dengan nama “Nganan Mase” sebagai media pembinaan keagamaan bagi warga.

“Mari kita tetap istiqamah dalam dakwah Muhammadiyah. Alhamdulillah, PRM Mendak terus aktif menyelenggarakan pengajian ‘Nganan Mase’ sebagai sarana memperkuat keimanan dan kebersamaan,” ungkap Sarjono.

Pengajian inti disampaikan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Delanggu, Moh. Chotib, yang mengulas pemikiran Prof. Dr. Hamim Ilyas, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengenai Konsep Tauhid Muhammadiyah, khususnya Tauhid Rahmatiyah.

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Tauhid Rahmatiyah berangkat dari pemahaman terhadap bahasa Al-Qur’an melalui akar kata rahima, yarhamu, dan rahmatan yang melahirkan nama-nama Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Moh. Chotib menjelaskan bahwa kalimat Bismillahirrahmanirrahim, yang selalu menjadi pembuka setiap aktivitas seorang muslim, mengandung pesan agar setiap amal dilakukan atas nama Allah yang penuh kasih sayang, sekaligus menjadi inspirasi agar manusia juga menebarkan kasih sayang dalam kehidupan.

Mengutip pemikiran Prof. Dr. Hamim Ilyas, ia menyampaikan bahwa tauhid bukan hanya sebatas mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari itu, pusat ketuhanan dalam Islam adalah rahmat. Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sifat kasih sayang-Nya, sehingga hubungan manusia dengan Allah seharusnya dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, dan harapan terhadap rahmat-Nya, bukan semata-mata rasa takut.

Pemahaman Tauhid Rahmatiyah diharapkan mampu melahirkan pribadi muslim yang mencerminkan nilai-nilai rahmat dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling menyayangi, menghormati perbedaan, gemar menolong, mudah memaafkan, serta menjadi pembawa kedamaian di tengah masyarakat.

Melalui pengajian ini, Muhammadiyah Delanggu berharap jamaah semakin memahami bahwa tauhid tidak hanya menjadi keyakinan yang tertanam di dalam hati, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku yang membawa manfaat bagi sesama. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin besar pula kasih sayang yang ditebarkannya kepada keluarga, masyarakat, dan seluruh makhluk sebagai wujud pengamalan ajaran Islam yang berkemajuan. Reportase: Koh Seem

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button