Tingkatkan Profesionalisme Layanan Kemanusiaan, Komunitas Lautmu Klaten Gelar Pertemuan Rutin ke-21
DELANGGU, KLATEN – Komunitas Mobil Layanan Umat (Lautmu) 1912 Kabupaten Klaten kembali mempertegas komitmennya dalam misi kemanusiaan melalui pertemuan rutin dan koordinasi putaran ke-21 yang diselenggarakan di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Delanggu. Acara ini menjadi momentum penting bagi para relawan untuk memperkuat sinergi organisasi dan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat luas tanpa memandang latar belakang.
Ketua Lautmu Klaten, Bapak Hardiyono, dalam laporannya menyampaikan bahwa saat ini komunitas tersebut telah mengelola sebanyak 56 unit mobil layanan, dengan 36 unit di antaranya merupakan ambulans yang aktif beroperasi di wilayah Klaten, Yogyakarta, Solo, hingga Boyolali. Ia menekankan bahwa kehadiran Lautmu adalah wujud nyata partisipasi Muhammadiyah dalam membantu umat secara universal.
“Dalam kegiatan kemanusiaan, kami tidak melihat agama atau latar belakang apa pun. Semua yang membutuhkan pertolongan, insyaallah kami tolong,” ujar Hardiyono dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Bapak Haji Afan Susanto dari PCM Delanggu mengusulkan
perlunya Standard Operating Procedure (SOP) yang seragam bagi seluruh armada Lautmu di Kabupaten Klaten. Ia juga mendorong adanya sinergi formal dengan Rumah Sakit
Muhammadiyah dan Aisyah, khususnya untuk layanan antar-jemput pasien pasca-opname agar tercipta keberlanjutan layanan yang profesional.
Dukungan juga datang dari pihak kepolisian. Kapolsek Delanggu, AKP Jaka Waluya, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi relawan yang selama ini sangat membantu tugas kepolisian, terutama dalam penanganan kecelakaan lalu lintas dan evakuasi jenazah. Namun, ia tetap mengingatkan para relawan untuk selalu mengutamakan keselamatan diri dan mematuhi aturan lalu lintas saat bertugas di jalan raya.
Sementara itu, Ketua LRB/MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bapak Budi Setiawan, memberikan pembekalan mengenai pentingnya memadukan niat ikhlas (lillah) dengan profesionalisme. Ia mengingatkan kembali sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang didirikan Kiai Dahlan untuk melayani sesama tanpa membedakan bangsa dan agama.
“Muhammadiyah membutuhkan relawan yang tidak hanya banyak secara kuantitas, tetapi juga berkualitas. Kita harus menggabungkan niat karena Allah dengan kemampuan teknis dan manajemen yang tertib,” tegas Budi Setiawan.
Acara ditutup dengan ikrar bersama oleh puluhan relawan yang hadir. Mereka berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan dan dedikasi demi menjadi relawan yang lebih baik dalam melayani masyarakat. Pertemuan ini diharapkan mampu menjaga semangat “lelah menjadi lillah” di kalangan pejuang kemanusiaan Lautmu Klaten. (Reportase Mas Imin)





